Wednesday, January 27, 2016

foto wedding pengantin khas teluk panji IV ( FADJAR PHOTOWORKS STUDIO )


Prewedding & Wedding

Koleksi foto Wedding 
Pasangan 
Dr. Amal Hayati Sagala & Drg. Yanci Akmal
Kota Pinang Labuhan Batu selatan
Depan Klinik Candra






                 Menerima : wedding || prewedding || foto studio keluarga || friendship || Ultah.
                                     Video Wedding || Video Cenematic || Video akhir sekolah Dll
                                                                     Hubungi :
                                            Phone : 0823 6902 1860 || Bbm : 74F08A12 ||
                                             Ig : Fadjarzamzami || FB : Fadjar Photoworks
                               Alamat Studio : Teluk Panji IV, Kec. Kampung Rakyat LABUSEL

                                      Mari Diorder dan dapatkan penawaran paket foto menarik
                                                                    BURUANNNN.............

Wednesday, January 20, 2016

Sofban KUB teluk panji IV

Kelompok Usaha Bersama (KUB) teluk panji IV, berkarya lewat balutan ide-ide kreatif dan salah satunya pemanfaatan ban bekas mobil yang di sulap menjadi SOFA cantik untu keperluan santai anda di ruangan kesayangan anda,..
Menawarkan brbagai bentuk model yang bisa anda pilih dan order sesuai selera anda,
                           
                                                NB : Untuk saat ini hanya menawarkan bentuk SOFA berbahan dasar Ban.

Berikut contoh sofa..



Bahan dasar balutan sofa ban di balut dengan jog kulit dan kain sofa cantik.
Untuk daftar harga stiap sofa bervariatif..
1. 2 kursi sofa 1 meja di bandrol                          : Rp. 750.000
2. 4 kursi sofa 1 meja di bandrol                          : Rp. 950.000
3. untuk pemesanan persatu kursi sofa di bandrol : Rp. 250.000
                Semua harga masih termasuk promo awal dan harga bisa sewaktu-waktu berubah sesuai kondisi.

untuk pemesanan, bisa langsung coment di bawah atau hubungi kontak person di bawah..

Darno   : 0812 6277 4837

Warsito : 0823 6424 8140

Order segera untuk menghiasi rumah istana anda.....


Wednesday, December 23, 2015

perbedaan kamera DSLR dan MIRROLES

PERBEDAAN KAMERA DSLR DAN MIRROLES


Canon dan sony
                                                                                                                                        fadjarphotoworks
 Sekilas Tentang DSLR & MIRROLES
Jika ditilik dari sisi rancangan, kamera DSLR sebenarnya memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan pertama adalah karena kamera DSLR pada aslinya dirancang untuk dipakai dengan film. Saat teknologi digital merambah ke dunia fotografi, digital mendapat perlakuan yang sama seperti segulung film, bahkan secara mekanis ditempatkan di body yang sama.
Silahkan baca juga Mengenal Kamera Mirrorless, serta Cara Kerja Kamera DSLR.
Konstruksi dasar DSLR tidak berubah dari film ke digital. Kecuali ruang film yang diganti sensor, beberapa perubahan sirkuit elektronis serta penambahan slot memory, sebuah DSLR relatif sama dengan SLR yang ada sejak beberapa dekade silam. Mekanisme cermin yang sama, pentaprisma yang sama, operasi autofokus dengan sistem phase detection yang sama.
Meskipun kemajuan teknologi akhirnya ditambahkan (Edit di kamera, HDR di kamera, GPS dan Wi-fi dll), namun kamera DSLR secara bentuk tidak berubah sejak puluhan tahun lalu.

Kenapa Kamera DSLR Bentuknya Tetap Besar dan Berat Seperti Kamera Film?

Ada beberapa alasan kenapa bentuk sebuah kamera DSLR tetap besar dan berat:
  1. Pertama, karena cermin didalam kamera DSLR ukurannya harus sama dengan ukuran sensornya, jadi makin besar sensor yang dipakai makin besar pula cermin yang dibutuhkan.
  2. Kedua, karena pentaprisma yang dipakai untuk mengubah sinar vertikal ke sinar horisontal pada viewfinder ukurannya juga sama dengan ukuran sensor, membuat bagian atas sebuah DSLR tampak besar.
  3. Ketiga, karena pembuat kamera ingin agar lensa lama tetap bisa dipakai di kamera DSLR baru untuk membantu transisi. Ini menyebabkan kamera DSLR modern masih harus mempertahankan jarak antara mount kamera ke sensor/film supaya panjang focal lensa tetap sama bagi kedua format, film maupun lensa.

Beberapa Keterbatasan Kamera DSLR

Karena ketergantungan kamera DSLR pada cermin agar mekanisme “through the lens” tetap bisa berjalan, mereka memiliki beberapa keterbatasan, antara lain:

1. Ukuran Fisik Yang Besar

Sistem yang dianut DSLR menuntut adanya cermin dan prisma, sehingga sebuah kamera DSLR selalu memiliki bentuk yang lebar dan kening yang menyembul. Posisi viewfinder juga harus ditempatkan segaris dengan sumbu optik dan sensor digital. Itulah kenapa semua kamera DSLR bentuk dasarnya selalu sama.

2. Bobot yang berat

Karena ukurannya besar, kamera DSLR lebih berat. Meski DSLR kelas pemula memiliki bagian yang terbuat dari plastik yang ringan, namun konstruksi susunan cermin + pentaprisma yang tidak bisa dikompromi membuatnya tetap besar. Belum lagi, rata-rata lensa DSLR cukup berat dan besar (apalagi lensa yang dirancang untuk kamera full frame), sehingga agar tercapai perimbangan yang baik saat dipakai, kamera DSLR juga mantap bobotnya.

3. Mekanisme Yang Rumit

Setiap kali kita memencet shutter, cermin harus bergerak naik atau turun agar cahaya bisa lewar menuju sensor. Pergerakan cermin ini menimbulkan beberapa masalah:
  • Gerakan Cermin. Suara terkeras yang terdengar saat kita memencet shutter berasal dari gerakan membuka atau menutupnya cermin , hal ini juga menimbulkan shake* pada kamera. Fitur seperti Mirror Lock Up muncul untuk mengurangi shake
  • Kolom Udara Yang Bergerak. Saat cermin mengayun keatas atau kebawah, kolom udara didalam kamera juga ikut bergerak. Bersamaan dengan itu, debu dan kotoran juga ikut bergerak dan menambah resiko sensor terkena kotoran
  • Komponen Bergerak Lebih Rentan. Semua orang tahu kalau ban dan rantai yang selalu bergerak di motor adalah dua unsur yang cukup rentan. Hal ini juga berlaku untuk cermin di dalam DSLR, untuk menghindari kerusakan, pembuat kamera harus memastikan bahan terbaik untuk membuatnya.

4. Tidak Ada Live Preview

Saat melihat melalui viewfinder optik, kita tidak bisa melihat bagaimana foto nantinya akan terlihat. Untuk kamera DSLR, kita harus mengandalkan metering dan menyesuaikan exposure berdasar metering tersebut.

5. Cermin Sekunder dan Phase Detect

Kamera DSLR yang memiliki autofokus dengan sistem deteksi fase membutuhkan cermin sekunder. Cermin kedua ini memiliki bentuk lebih kecil dibanding cermin utama dan fungsinya meneruskan cahaya ke sensor deteksi fase. Posisi cermin sekunder ini harus sangat presisi karena kalau meleset, semua sistem autofokus akan kacau

6. Harga

. Harga sebuah kamera DSLR mahal terutama karena membutuhkan teknik perakitan yang presisi terutama untuk beberapa bagian yang bergerak, shutter dan cermin. Pelumasan yang baik disetiap detail logam yang saling bersentuhan. Itu semua mengakibatkan biaya produksi yang tidak murah.

Keuntungan-keuntungan Kamera Mirrorless?

Dengan menghilangkan bagian cermin (dan pentaprisma) dari sebuah kamera (sehingga dinamai mirror-less) dan terbukti penjualannya makin bagus, produsen kamera mulai menyadari bahwa sistem mirrorless adalah jawaban untuk kamera masa depan.
Masa depan adalah kata kunci disini. Kenapa? karena mirrorless secara teori memiliki potensi yang sangat bagus dan bisa mengatasi banyak permasalahan di sistem DSLR. Namun masih akan dibutuhkan banyak iterasi dan koreksi dari sistem kamera mirrorless yang ada untuk sampai kesana.
Diatas kertas, apa saja keuntungan kamera mirrorless dibandingkan kamera DSLR:

1. Ukuran Lebih Ringkas Dan Bobot Lebih Ringan

Karena susunan cermin dan pentaprisma di DSLR yang menyita banyak ruang, sebuah kamera mirrorless tanpa keduanya bisa memiliki bentuk yang lebih ringkas dan material body yang lebih sedikit, sehingga bobot kosongnya lebih ringan. Populernya fotografi dengan smartphone mengajari produsen kamera, bahwa orang akan lebih banyak memotret kalau kameranya tidak ribet dan bisa dibawa kemana-mana. Kamera pocket rontok dipasar, karena banyak orang menganggap kamera ponsel yang tidak terpaut jauh kualitasnya. Barang yang ringkas dan ringan menjadi primadona, silahkan lihat penjualan laptop vs dektop.

2. Tanpa Mekanisme Yang Bergerak: Cermin

Tanpa ada cermin yang selalu mengayun membuka dan menutup, sebuah kamera mirrorless memiliki banyak keuntungan: lebih senyap, mengurangi shake, tiak ada kolom udara yang bergerak sehingga debu tidak terbang kemana-kemana, berpotensi memiliki fps jauh lebih tinggi karena tidak melibatkan komponen bergerak serta harga bisa ditekan karena perakitan lebih mudah

3. Live Preview

Dengan kamera mirrorless kita bisa memperoleh live preview dengan gambar yang sama persis dengan hasil akhir foto, apa yang kita lihat di preview adalah apa yang akan kita dapatkan. Anda mengubah white balance, ISO atau yang lain, semua akan serta merta terlihat di preview

4. Harga

Material lebih sedikit dengan mekanisme yang tidak sekompleks DSLR membuat kamera mirrorless harusnya lebih murah. Tentu harga ditentukan juga oleh tingkat supply dan demand disertai dengan biaya riset teknologi mirrorless itu sendiri yang masih baru, namun intinya mereka akan menjadi lebih murah lagi dibandingkan DSLR (saya tidak bicara soal Leica lho, apalagi Leica yang ini).

5. Viewfinder elektronis (EVF)

Inilah keuntungan terbesar dari mirrorless. Memang EVF masih agak kurang responsif sampai detik ini, namun seiring dengan waktu mereka akan sempurna dan lebih bagus dibanding viewfinder optik (OVF). Beberapa keuntungan EVF: bisa ditumpuk informasi lain sambil menyusun foto, live preview yang akurat karena langsung diambil dari sensor, focus peaking untuk manual fokus yang super akurat.

Beberapa Keterbatasan Kamera Mirrorless

Namun dibandingkan kamera DSLR, kamera mirrorless juga memiliki beberapa kelamahan. Antara lain:

1. EVF masih tidak responsif

Harus sabar menunggu agar teknologi EVF berevolusi dan makin canggih sehingga tidak lagi lelet

2. Mode Continuous masih jauh tertinggal

dibanding DSLR. Karena mirrorless masih mengandalkan autofokus contrast detect, mereka masih sangat lelet dan lemah saat memotret benda bergerak. Kamera mirrorless karena dari sononya ringkas dan ringan, tidak terlalu berjodoh dengan lensa tele yang banyak memakai mode continuous, sehingga riset kearah sana lumayan lambat

3. Baterai tidak tahan lama

. Dengan selalu mengandalkan LCD dan EVF saat memotret, baterai sebuah kamera mirrorless cepat habis. Rata-rata baterai mirrorless habis setelah memotret 400-an frame, bandingkan dengan DSLR yang bisa tahan ribuan. Isu ini juga lambat laun bisa diselesaikan dengan kemajuan teknologi baterai.

4. EVF belum realistik

Tampilan yang ada di viewfinder elektronis belum bisa natural, masih tampak terlalu tinggi kontrasnya.
Seperti yang anda lihat, daftar kekurangan mirrorless cukup pendek dan akan teratasi seiring dengan riset dan kemajuan teknologi yang dipakai. Dimasa yang tidak terlalu lama (6 tahun keatas?), kamera mirrorless akan makin canggih dan sangat menggoda dimiliki. Memang tidak semua orang akan tertarik dengan bentuk kecil dan ringkas, dan mereka yang gemar lensa super tele jumlahnya cukup banyak. Namun pengguna mirrorless akan makin signifikan, karena bentuk, bobot dan fitur yang ditawarkan memang menawan.

Selebihnya tentukan pilihan berdasarkan kebutuhan anda,..terima ksih semoga bermanfaat.....

Thursday, November 12, 2015

Pengertiana Kamera SLR dan DSLR

Kalian tau camera ? tentunya kalian pasti tau soalnya udah ga awam lagi benda ini.
Tau bedanya camera Jenis SLR & DSLR ? Yang belum tau yuk cari tau!


Haloo sobat blogger, ketemu lagi sama saya fahri.
Kali ini saya akan membahas tentang kamera >< menurut kalian kamera itu fungsinya buat apa ? "NARSIS" < jawabannya bener, tapi ga selamanya buat narsis :p fungsi sama manfaatnya kamera itu banyak salah satunya buat dokumentasi setiap ada kegiatan / acara.
Oke langsung ke Topik kita, selamat membaca terutama temen2 di XMIP :)

1. Sejarah Kamera SLR dan DSLR


         Kamera SLR pertama sudah muncul pada abad ke-18, jauh sebelum fotografi ditemukan. Kamera ini berbentuk kotak besar dengan sebuah lubang kecil di bagian depan dan sebuah focus screen di bagian atas. Ditutupi dengan sebuah kain hitam, sang “fotografer” kemudian melihat gambar hitam yang ditangkap oleh lensa berlubang. Lalu, gambar dituangkan ke dalam kerta dengan pensil. Dengan lensa tersebut, gambar akan tampak horizontal di depannya. Setelah penemuan fotografi pada tahun 1825, Thomas Sutton kemudian membuat kamera foto SLR pertama pada tahun 1861. Gambar yang ditangkap sudah berdiri tegak dan focus screen tidak perlu lagi diganti de­ngan pelat foto karena lensa dapat dibuka-lipat.
            Kamera SLR pertamakali dikembangkan dan dikenalknan pada tahun 1936 oleh exakta yang memelopori munculnya kamera SLR 35 mm. Kamera tersebut untuk menggunakan film warna yang dibuat oleh Kodakchrome dengan sistem film multilayered. Perkembangan kamera SLR ternyata diikuti oleh negara swedia yang kemudian terkenal dengan kamera Hasselblad-nya. Pada tahun 1948, Hasselblad membuat kamera dengan format medium komersial pertama. Hingga saat ini, Hasselblad menjadi pencipta kamera bermutu sangat tinggi dan menjadi idaman fotografer professional. Perkembangan kamera tersebut ternyata diikuti pula oleh negara Jepang yang sangat terkenal ambisius dalam mengembangkan teknologinya sendiri, dengan berkaca pada pengalaman negara Barat. Pada tahun yang sama, Zentax memperkenalkan konsep diafragma otomatis pada kamera LSR.
          Pada tahun 1949, untuk pertamakalinya dikenalkan sistem penta prisma atau prisma segilima yang diletakkan pada sisi atas kamera. Sistem itu dikenalkan oleh perusahaan kamera Contax di Jerman Timur pada tanggal 20 Mei 1949. sistem lensa dan prisma tersebut ternyata menjadi acuan bagi perkembangan kamera selanjutnya. Hingga saat ini.

2. Jenis - jenis Kamera SLR dan DSLR
SLR

Kamera refleks lensa tunggal‎ (bahasa Inggris: Single-lens reflex (SLR) camera) adalah kamera yang menggunakan sistem jajaran lensa jalur tunggal untuk melewatkan berkas cahaya menuju ke dua tempat, yaitu Focal Plane dan Viewfinder, sehingga memungkinkan fotografer untuk dapat melihat objek melalui kamera yang sama persis seperti hasil fotonya. Hal ini berbeda dengan kamera non-SLR, dimana pandangan yang terlihat di viewfinder bisa jadi berbeda dengan apa yang ditangkap di film, karena kamera jenis ini menggunakan jajaran lensa ganda, 1 untuk melewatkan berkas cahaya ke Viewfinder, dan jajaran lensa yang lain untuk melewatkan berkas cahaya ke Focal Plane.
Kamera SLR menggunakan pentaprisma yang ditempatkan di atas jalur optikal melalui lensa ke lempengan film. Cahaya yang masuk kemudian dipantulkan ke atas oleh kaca cermin pantul dan mengenai pentaprisma. Pentaprisma kemudian memantulkan cahaya beberapa kali hingga mengenai jendela bidik. Saat tombol dilepaskan, kaca membuka jalan bagi cahaya sehingga cahaya dapat langsung mengenai film.
Macam-macam lensa
>  Lensa Standar. Lensa ini disebut juga lensa normal. Berukuran 50 mm dan memberikan karakter bidikan natural.
>  Lensa Sudut-Lebar (Wide Angle Lens). Lensa jenis ini dapat digunakan untuk menangkap subjek yang luas dalam ruang sempit. Karakter lensa ini adalah membuat subjek lebih kecil daripada ukuran sebenarnya. Dengan menggunakan lensa jenis ini, di dalam ruangan kita dapat memotret lebih banyak orang yang berjejer jika dibandingkan dengan lensa standar. Semakin pendek jarak fokusnya, maka semakin lebar pandangannya. Ukuran lensa ini beragan mulai dari 17 mm, 24 mm, 28 mm, dan 35 mm.
>  Lensa Fish Eye. Lensa fish eye adalah lensa wide angle dengan diameter 14 mm, 15 mm, dan 16 mm. Lensa ini memberikan pandangan 180 derajat. Gambar yang dihasilkan melengkung.
>  Lensa Tele. Lensa tele merupakan kebalikan lensa wide angle. Fungsi lensa ini adalah untuk mendekatkan subjek, namun mempersempit sudut pandang. Yang termasuk lensa tele adalah lensa berukuran 70 mm ke atas. Karena sudut pandangannya sempit, lensa tele akan mengaburkan lapangan sekitarnya. Namun hal ini tidak menjadi masalah karena lensa tele memang digunakan untuk mendekatkan pandangan dan memfokuskan pada subjek tertentu.
>  Lensa Zoom. Merupakan gabungan antara lensa standar, lensa wide angle, dan lesa tele. Ukuran lensa tidak fixed, misalnya 80-200 mm. Lensa ini cukup fleksibel dan memiliki range lensa yang cukup lebar. Oleh karena itu lensa zoom banyak digunakan, sebab pemakai tinggal memutar ukuran lensa sesuai dengan yang dibutuhkan.
>  Lensa Makro. Lensa makro biasa digunakan untuk memotret benda yang kecil.

DSLR


Digital Single Lens Reflex (Digital SLR atau DSLR) adalah kamera digital yang menggunakan sistem cermin otomatis dan pentaprisma atau pentamirror untuk meneruskan cahaya dari lensa menuju ke viewfinder.
Kamera DSLR memiliki keunggulan dalam hal ukuran sensornya yang jauh lebih besar dibanding kamera digital biasa. Hal ini kamera ukuran sensor dibuat menyamai ukuran film analog 35mm atau yang dikenal dengan sebutan full frame (36 x 24mm). Sensor yang besar artinya setiap pikselnya memiliki ukuran yang lebih besar, sehingga kemampuan dalam menangkap cahaya lebih baik. Maka itu kamera DSLR memiliki kemampuan ISO tinggi yang baik dimana pada ISO tinggi pun noisenya masih terjaga dengan baik. Namun dengan sensor yang berukuran besar, biaya produksi kamera DSLR menjadi tinggi khususnya DSLR full frame. Selain memakai sensor berukuran 35mm, kamera DSLR juga tersedia dengan sensor yang berukuran lebih kecil. 
Tujuannya adalah untuk menekan biaya produksi dan membuka kesempatan memproduksi lensa khusus yang bisa dibuat lebih kecil dan dengan biaya yang lebih murah.
Sensor yang lebih kecil dari sensor full frame biasa disebut dengan crop-sensor, karena gambar yang dihasilkan tidak lagi memiliki bidang gambar yang sama dengan fokal lensa yangdigunakan. Hal ini biasa disebut dengan crop factor, dinyatakan dengan focal length multiplier, suatu faktor pengali yang akan membuat fokal lensa yang digunakan akan terkoreksi sesuai ukuran sensor. Perkalian ini akan menaikkan fokal efektif dari fokal lensa yang dipakai sehingga hasil foto yang diambil dengan sensor crop ini akan mengalami perbesaran (magnification). Semakin kecil sensornya maka semakin tinggi crop factornya dan semakin besar perbesaran gambarnya.
Berikut adalah bermacam ukuran sensor kamera DSLR dan kaitannya dengan crop factor  :
Full frame 35mm (36 x 24mm)             : tanpa crop factor
APS-H (28.7  x 19mm)                       : crop factor 1,3x
APS-C (23.6 x 15.7mm)                     : crop factor 1,5x
APS-C (22.2 x14.8mm)                      : crop factor 1,6x
Four Thirds (17.3 x 13mm)                  : crop factor 2x
Lensa yang didesain untuk kamera DSLR full frame memiliki diameter image circle yang disesuaikan dengan ukuran sensor 35mm. Dengan semakin banyaknya DSLR dengan sensor yang lebih kecil daripada sensor full frame, maka kini semakin banyak dibuat lensa khusus dengan diameter image circle yang juga lebih kecil. Lensa ini dibedakan dengan penamaan khusus, misalnya memakai kode EF-S untuk Canon dan DX untuk Nikon. Lensa semacam ini berukuran lebih kecil dan tergolong lensa generasi modern yang sudah dilengkapi dengan CPU. Namun lensa dengan diameter kecil ini tidak bisa dipakai di DSLR full frame karena hasil fotonya akan mengalami vignetting (ada lingkaran di pojok foto akibat diameter lensa yang lebih kecil dari ukuran sensor).Jalur agak berbeda ditempuh oleh Olympus yang memakai sensor Four Thirds (4/3) di seluruh jajaran kamera DSLRnya, sehingga lensanya pun sudah didesain memiliki image circle yang sesuai dengan sensor Four Thirds.
Sebagai contoh, sebuah lensa fix 50mm akan memberikan panjang fokal efektif yang berbeda bila mengalami crop factor berikut :
1,3x     : 65mm
1,5x     : 75mm
1,6x     : 80mm
2x        : 100mm
3. Perbedaan Kamera SLR dan DSLR
 DSLR dan SLR adalah camera yang hanya berbeda pada sistem kerjanya.
·                 DSLR (Digital Single Lens Reflex) bekerja dengan sistem digital penuh sejak saat capture obyek foto oleh Image Sensor hingga penulisan pada memory card. Karena itu pada DSLR terdapat lebih banyak tombol dibanding SLR seperti pilihan ISO, White Balance, Preset Scenes, Resolusi dan lainnya, dan yang paling membedakan adalah tersedianya memory slot yang terkadang lebih dari 1.
·                  SLR dalam sistem kerjanya berbeda dengan DSLR, misalnya tidak tersedia pilihan ISO (karena secara otomatis ditentukan oleh casing film yang terbuat dari metal kemudian dicat pada bagian2 tertentu), dan tombol lainnya seperti yang ada pada DSLR.
·              SLR lebih sederhana, sistem electronicnya hanya berfungsi untuk pengaturan komposisi foto secara otomatik (aperture, speed) bagi profesional pengaturan auto ini justru sering di non aktifkan, selebihnya perintah untuk menggulung film maju atau mundur secara otomatis.
·                   Pada SLR media penyimpan data gambar disimpan pada film 35MM (analog) tidak diperlukan proses digitalisasi, kompresi data sehingga gambar bisa langsung dilihat hasilnya pada film tersebut. Bila ingin memproses foto lebih lanjut gulungan film inilah yang dibawa ke laboratorium cuci cetak foto.
·                   Sedangkan untuk melihat hasil foto pada DSLR kita harus memakai LCD atau monitor PC dan dibutuhkan software untuk bisa melihat hasil foto maupun editing, tetapi inilah keunggulan DSLR sehingga hasil foto langsung tersaji pada LCD yang tersedia pada tiap DSLR. Bila ingin memproses edit dan cetak foto maka tinggal menyerahkan memory card ke laboratorium cetak foto untuk di copy ke PC mereka bahkan kita bisa mem print sendiri di rumah. Jadi “sayonara” roll film bagi DSLR.
Sedangkan kesamaan DSLR dan SLR adalah mekanisasi pengambilan obyek foto yang menggunakan satu lensa (single lens) yang sama untuk fungsi membidik (via viewfinder) dan menyampaikan hasil bidikan kepada Image Sensor (DSLR) atau pada Film (SLR). Progres tersebut dikerjakan secara reflexy (memakai kaca pantul yang terdapat didalam camera).
4. Pengertian Fotografi
Pengertian Fotografi, Fotografi (Photography, Ingrris) berasal dari 2 kata yaitu Photo yang berarti cahaya dan Graph yang berarti tulisan / lukisan. Dalam seni rupa, fotografi adalah proses melukis / menulis dengan menggunakan media cahaya. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera.
Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada cahaya, berarti tidak ada foto yang bisa dibuat
Prinsip fotografi adalah memokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan ukuran luminitas cahaya yang tepat akan menghailkan bayangan identik dengan cahaya yang memasuki medium pembiasan (selanjutnya disebutlensa).
Untuk menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan gambar, digunakan bantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat ukuran pencahayaan yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur intensitas cahaya tersebut dengan merubah kombinasi ISO / ASA (ISO Speed), Diafragma (Aperture), dan Kecepatan Rana (Speed). Kombinasi antara ISO, Diafragma & Speed selanjutnya disebut sebagai Eksposur (Exposure).
Nah sekarang udah pada tau kan sejarahnya, pengertiannya dan perbedaannya ? Setelah dibaca langsung masuk ke otak ya dan do CTRL + S, jadi pas guru ada yang nanya bedanya Kamera SLR sama Kamera DSLR apa bisa jawab deh, hehehe :D.
Oke mudah2an bisa nambah ilmu buat kalian yang membaca, terima kasih udah berkunjung kembali di blog saya dan setia menunggu saya posting :D..
Sumber : Mbah GOOGLE
Terima Kasih

Sunday, November 8, 2015

Hunting NIDO family di SIDAMANIK ..
Sidamanik, lokasi yang menurut kami sangat apik untuk dikunjungi baik liburan bersama keluarga, pasangan dan sebagai objek foto contoh untuk momen-momen bahagia seperti prewedding pernikahan, lokasi yang mengkoleksi 3 tempat berbeda seperti air terjun, danau manik dan kebun teh yang sangat terkenal kehijauanya, panorama bentangan kebun teh yang luas dan lokasi cuaca yang sejuk membuat kita nyaman untuk bersantai di tempat ini,..ini beberapa hasil koleksi foto prewedding di 3 lokasi berbeda.
      masih dalam tahap belajar, dan masih butuh pengembangan dalam hal editan..
1.
tepatnya di air terjun sidamanik, meskipun buatan tapi tetep berkarakter alam,..konsep yang di gunakan adalah vintage photos...
2.
masih dilokasi yang sama dan konsep yang sama, hanya saja mengusung single enggle..
3.

4. kebun tehnya..masih mengusung konsep yang sama...
5. Lokasi air terjun buatan, tapi enggle terpusat di panorama atas...
6. Dan ini BHS kegiatan hunting NIDO..





Friday, November 6, 2015

FOTOGRAFER...
Satu profesi yang tidak sEmua orang mampu meminatinya, di ukur dari segi alat-alat yang begitu mahal dan kelengkapan tool-tool yang luar biasa mahalnya juga,..membuat kebanyakan orang sulit meminati bidang ini sebagai hoby,
tapi saya mensiasati hoby ini sebagai mata pencarian, ya bisa di bilang bisa berputar lah ekonominya..hehehe.....
asiknya menggeluti profesi ini bisa bekerja dengan nyaman karna di timbang dari hoby yang menjadi pekerjaan...bekerja serasa bermain,..

OK aku fajar zam-zami singkat ajj ya...soalnya panjang kalo di panjangkan..ehehe,
aku salah satu orang yang mencintai dunia foto, berawal dari angkat-angkat tas, bawak tripod, belajar kamera tanpa alat, ya cuman tengak tenguk...tapi dari situ aku nggak pernah ngrasa kalo aku rendahan...perlahan menikmati dan mulai paham klo untuk memulai sesuatu nggak harus terbang tapi bisa dengan merayap...

tabung-tabung akhirnya bisa beli kamera yang diinginkan, y walaupn masih standart tapi yang penting sudah punya bahan belajar...
singkat lagi ya, biar ngak kelamaan,,,..berkumpul membentuk satu komunitas foto dan kami menamakan "NIDO" awalnya bingung knapa mesti nido, stelah dijelaskan, ternyata "NIDO" itu berasal dari bahasa yunani "SARANG/WADAH" jadi kesimpulanya NIDO itu tempat untuk orang-orang yang mau belajar kamera...





DAN INI LAH KAMI "NIDO"

Belajar banyak hal tentang dunia kamera dan karya foto dari komunitas ini, nggak ada persaingan diantara kami, karna inti dari komunitas adalah belajar dan berkarya...susah senang rokok pun santingan makan pun patungan itu lah yang kami rasakan dari kebersamaan NIDO...tapi ternyata kampung halaman menjadi pilihan untuk berjuang melanjutkan NIDO...TELUK PANJI IV, disini aku berdiri meneruskan NIDO...
wahhh wahhhh...kok jadi Meloww..hahaha, ok ok ...
buat kalian yang pengen berkreasi di bidang ini, mari raih tangan kami dan tak perlu dengan alat yang wahhh....to be continue.......